Hasil Wawancara

 

Nama             : Robi

Usia                : 17 tahun

Alamat          : Serpong – Tangerang

 

  1. 1.    Bagaimana kehidupan sehari – hari sebelum di lapas? Asal dari mana?

Sehari – hari saya tinggal bersama kedua orang tua, karena salah pergaulan saya menggunakan ganja sekaligus menjual ganja tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Sebenarnya saya berjualan ganja karena faktor keluarga yang membuat saya kurang nyaman, sehingga saya jarang berada di rumah, lebih banyak bergaul dengan teman – teman sesama pemakai.

  1. 2.    Bagaimana caranya dia melakukan kejahatan tersebut? Bagaimana perasaan dia ketika melakukan kejahatan tersebut? Siapa yang mempengaruhi dia?

Awalnya saya hanya pemakai, lalu karena kebutuhan sayapun mencoba untuk menjual ganja tersebut yang saya dapatkan dari teman saya. Pada dasarnya saya di pengaruhi oleh lingkungan teman sekaligus faktor keadaan keluarga. Perasaan saya ketika tertangkap oleh polisi sangat menyesal dan merasa bersalah kepada orang tua.

  1. 3.    Bagaimana rehabilitas pendidikan di lapas?

Saya di sini baru 1 bulan, dan belum di putus pidananya. Yang saya tahu saya hanya mengikuti kegiatan yang ada di dalam lapas.

  1. 4.    Bagaimana harapan dia jika keluar dari lapas? Apa yang mau dilakukan?

Harapan saya setelah bebas saya ingin lebih baik dan tidak mau mengulanginya lagi, dan saya ingin bekerja.

 

Nama             : Hamdan

Usia                : 25 tahun (Sudah 7 tahun lebih di Lapas Anak Tangerang)

Alamat          : Pelabuhan Ratu

 

  1. 1.    Bagaimana kehidupan sehari – hari sebelum di lapas? Asal dari mana?

Kehidupan sehari – hari saya sebelum masuk lapas, saya bergaul bersama orang – orang yang pemabuk dan memakai narkoba jenisnya sabu – sabu. Saya tinggal bersama kedua orang tua, tapi kehidupan sehari – hari saya berandalan, sering tawuran saat masih sekolah dulu.

  1. 2.    Bagaimana caranya dia melakukan kejahatan tersebut? Bagaimana perasaan dia ketika melakukan kejahatan tersebut? Siapa yang mempengaruhi dia?

Saya disini terkena Pasal 340 dan Pasal 338 di vonis 10 tahun penjara, saya di sini sudah 7 tahun lebih. Saya membunuh karena ada teman saya bercerita akan di bunuh oleh musuhnya, karena solidaritas sebelum teman saya di bunuh, maka saya berinisiatif untuk membunuh musuh teman saya/orang yang akan membunuh teman saya itu. Pada saat membunuh saya dalam keadaan tidak sadar akibat pengaruh narkotika. Ketika melakukan kejahatan saya tidak merasa bersalah, tapi setelah efek dari narkotika hilang saya baru menyadari dan merasa menyesal.

  1. 3.    Bagaimana rehabilitas pendidikan di lapas?

Di sini saya merasa lebih baik, karena di dalam lapas ini pendidikan sangat di perhatikan. Anak – anak yang dulunya tidak sekolah bisa mendapatkan pendidikan, dan untuk yang beragama Islam ada kegiatan pesantren. Di ajarkan berbagai macam keahlian seperti service handphone, service air conditioner, service motor, menjahit, olahraga, kesenian lukis, main alat musik (band), tersedia fasilitas internet. Kemudian di sinipun Andikpas yang berprestasi bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

  1. 4.    Bagaimana harapan dia jika keluar dari lapas? Apa yang mau dilakukan?

Keadaan di lapas ini menginspirasi saya untuk mendidik, atau membuka usaha service air conditioner atau membuka studio band.

  Analisis

 

Berdasarkan dari hasil wawancara yang kami dapat dari keterangan para Adikpas, hal yang mereka lakukan merupakan perbuatan yang mereka sendiri sadar bahwa hal itu termasuk tindakan yang tidak di benarkan secara hukum, namun mereka seolah me-legalkan hal tersebut, di karenakan lingkungan yang mendukung mereka melakukan perbuatan tersebut. Hal ini tercermin dari kasus saudara Robi, ia terbiasa bergaul bersama teman – teman yang memang memakai narkotika dan juga para penjual narkotika. Yang awalnya narkotika (ganja) tersebut ia pakai sendiri untuk pelarian dari rasa kurang nyaman yang ia rasakan di dalam rumah, tapi karena ia bergaul pula dengan para pengedar ganja, maka iapun mengikuti teman – temannya sebagai penjual ganja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.  Menurut  klasifikasi kejahatan Bonger, ini  merupakan motif  ekonomi, yaitu ia melakukan kejahatan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Juga difaktorkan oleh keadan keluarga yang kurang mendukung yang membuat dirinya kurang merasa nyaman dalam lingkungan keluarga, sehingga sebagai pelarian ia kemudian memakai dan menjual ganja yang ia dapat dari temannya itu.

Contoh kedua dari hasil wawancara dengan Adikpas yang bernama Hamdan yang melakukan pembunuhan. Pada awalnya ia bercerita bahwa pada saat itu dia mengetahui bahwa temannya akan dibunuh oleh musuhnya, maka dari itu ia membunuh musuh temannya itu terlebih dahulu dalam keadaan dipengaruhi oleh sabu. Hal ini terlihat bahwa Hamdan sangat solidaritas kepada temannya, ia melakukan pembunuhan untuk melindungi nyawa temannya yang tanpa sadar hal itu justru membuatnya masuk ke dalam penjara. Tapi karena pergaulan sehari – hari dengan para pemakai narkotika (sabu) dan para pemabuk, serta latar belakang Hamdan yang tergolong berandalan dari semasa sekolah, maka tak heran ia bisa melakukan pembunuhan, walau sebenarnya ia melakukan pembunuhan dibawah pengaruh sabu yang ia konsumsi.

Dari kedua Adikpas yang kami wawancarai, dapat di ambil kesimpulan bahwa hampir sebagian besar mereka melakukan kejahatan karena pengaruh dari lingkungan keluarga serta pengaruh pertemanan yang salah. Kebiasaan bergaul dengan pemakai narkotika serta pemabuk membuat mereka menjadi pemakai serta pemabuk juga. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari mendorong Robi untuk mencari uang dengan jalan pintas, karena terbiasa bergaul dengan penjual ganja, Robi pun mencoba berjualan ganja untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan Hamdan yang melakukan pembunuhan karena solidaritas merupakan sebuah cerminan bahwa eratnya tali pertemanan yang terjalin antara Hamdan dan teman – temannya.

 

 

Teori Yang Terkait

 

Menurut teori Maber Elliot menyatakan bahwa penjahat adalah orang – orang yang gagal dalam menyesuaikan dirinya dengan norma – norma masyarakat sehingga tingkah lakunya tidak dapat dibenarkan oleh masyarakat. Sedangkan menurut Sutherland berpendapat bahwa penjahat ialah orang yang terlibat atau melakukan kejahatan.

Berdasarkan klasifikasi kejaharan menurut Bonger, kejahatan yang dilakukan oleh Robi ini  merupakan motif  ekonomi, yaitu ia melakukan kejahatan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sedangkan kejahatan yang dilakukan oleh Hamdan adalah motif balas dendam. Berdasarkan teori kejahatan menurut Linde Smith dan Dunham mengatakan bahwa ini merupakan type penjahat individu yang melakukan kejahatan atas alasan pribadi tanpa dukungan budayanya.

Travis Hirschi (Social Bonds) menyebutkan empat social bonds yang mendorong socialization (sosialisasi) dan conformity (penyesuaian diri) yaitu attachment, commitment, involvement, dan belief. Menurut Hirschi “the stronger these bonds, the less likelihood of delinquency” yang artinya semakin kuat ikatan – ikatan ini, semakin kecil kemungkinan terjadi delinquency.

Albert J.Reiss (Personal and Social Control), delinquency menurut Reiss merupakan hasil dari (1) kegagalan dalam menanamkan norma – norma berperilaku yang secara sosial diterima dan ditentukan, (2) runtuhnya kontrol internal, (3) tiadanya aturan – aturan sosial yang menentukan tingkah laku di dalam keluarga, sekolah, dan kelompok – kelompok sosial lainnya. Personal control di definisikan sebagai kemampuan individu untuk menolak memenuhi kebutuhan dengan cara yang berlawanan dengan norma – norma dan aturan – aturan masyarakat. Sedangkan sosial control didefinisikan sebagai kemampuan kelompok – kelompok atau lembaga – lembaga sosial untuk membuat norma – norma atau aturan – aturannya dipatuhi. Menurut Reiss, penyesuaian diri dengan norma mungkin dihasilkan dari penerimaan individu atas aturan dan peranan atau semata – mata dari ketundukan kepada norma.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About muhammad muaz

kalem,kaku....
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s